Pemkab Aceh Utara Harus Fokus Selamatkan Lingkungan

LHOKSEUMAWE - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Utara dinilai belum serius bekerja untuk menyelamatkan kerusakan lingkungan yang terjadi selama ini. Kerusakan lingkungan yang paling parah yaitu kerusakan hutan dan aktivitas Galian CDirektur LSM Suara Hati Masyarakat (Sahara) Dahlan M Isa, Kamis (23/2/2017) mengatakan, luas hutan Aceh Utara setiap tahunnya semakin mengecil.
Kini luasnya hanya 43.000 hektare dari sebelumnya mencapai 80.103 hektare dan berkurang 53 persen.
“Kalau kita lihat, Pemerintah Kabupaten Aceh Utara belum serius menangani persoalan kerusakan lingkungan yang terjadi selama ini. Sebagai contoh, hutan Aceh Utara setiap tahunnya semakin rusak,” ujar Dahlan.
Ia menambahkan, Aceh Utara memiliki tiga hutan lindung, yaitu di Kecamatan Paya Bakong, Langkahan dan Kecamatan Pirak Timu. Ketiga hutan lindung tersebut, kini kondisinya telah rusak parah.
Kerusakan hutan yang paling parah terjadi pada 2000 dan masih terus berlangsung hingga saat ini. Kayu-kayu yang berpotensi semakin ditebang, sehingga mengakibatkan bencana alam yang sangat beragam.
“Kalau hutan sudah semakin banyak ditebang dan kayu-kayu yang berpotensi untuk menyerap air sudah tidak ada lagi, maka akan menimbulkan bencana, seperti banjir, longsor dan beberapa bencana lainnya,” tutur Dahlan.
Menurutnya, kerusakan lingkungan lainnya diakibat aktivitas galian C, seperti yang terjadi di Kecamatan Sawang, Paya Bakong, Cot Girek dan beberapa tempat lainnya.
Akibat adanya kegiatan itu, telah menyebabkan debit air sungai berkurang dan sumur warga kering.
Dahlan mengharapkan kepada Pemerintah Kabupaten Aceh Utara untuk lebih aktif melakukan pengawasan terhadap lingkungan, karena apabila lingkungan sudah mulai rusak maka kehidupan manusia pun akan menjadi terganggu.
Editor : Yudi
Sumber : www.goaceh.co

Sekretariat Bytra

Sekretariat Bytra

Jalan Antara No.1, Gampong Teumpok Teungoh,

Kec. Banda Sakti, Kota Lhokseumawe, Provinsi Aceh Kode Pos. 24351